“Bogor Bersatu dalam Doa” – JDS Lintas Gereja Jadi Momentum Rohani yang Menggetarkan

Bogor – Suasana rohani yang kuat terasa di GPIAI Filadhelpia, Komplek Graha Indah, Jalan Raya Kedung Halang, Kelurahan Kedung Halang, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (18/2/2026). Ibadah Jaringan Doa se-Kota Bogor (JDS) menghadirkan pemandangan yang jarang terlihat: hamba-hamba Tuhan dan pendoa dari lintas organisasi gereja berdiri bersama dalam satu mezbah doa.

Pertemuan ini bukan sekadar ibadah rutin. Di tengah dinamika sosial dan tantangan zaman, gereja-gereja di Kota Bogor menunjukkan bahwa persatuan lebih kuat daripada perbedaan. Tanpa atribut berlebihan dan tanpa sekat denominasi, para pemimpin gereja memilih untuk bersatu dalam doa bagi kota dan bangsa.

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. DR. Leo Francisco, S.Th., M.Th., M.Pd, dengan dasar 1 Tesalonika 5:16–18. Ia menegaskan bahwa gereja yang kuat adalah gereja yang tetap bersukacita, tidak berhenti berdoa, dan mampu mengucap syukur dalam segala keadaan.

“Kesatuan bukan dibangun oleh kesamaan nama organisasi, tetapi oleh kerendahan hati untuk berdoa bersama,” ujarnya, yang langsung diamini jemaat.

Momen paling menyentuh terjadi saat seluruh peserta berdiri dan bergandengan tangan. Doa syafaat dinaikkan bagi Kota Bogor, Indonesia, serta para pemimpin agar diberi hikmat dan integritas. Suasana hening berubah menjadi penuh haru ketika suara doa terdengar serentak memenuhi ruangan.

Sejumlah peserta menyebut JDS kali ini sebagai “titik temu rohani” yang memperlihatkan kedewasaan gereja di Kota Bogor. Di tengah perbedaan latar belakang pelayanan, para hamba Tuhan sepakat bahwa doa adalah fondasi utama menjaga kesatuan.

Panitia menyampaikan bahwa gerakan doa lintas gereja ini akan terus digalakkan sebagai bagian dari komitmen membangun kolaborasi pelayanan yang sehat. Mereka berharap semangat kebersamaan ini tidak berhenti pada satu pertemuan, tetapi menjadi budaya rohani yang berkelanjutan.

Ibadah JDS pun ramai diperbincangkan di kalangan jemaat dan komunitas rohani setempat, karena menghadirkan pesan sederhana namun kuat: ketika gereja bersatu dalam doa, harapan bagi kota semakin nyata.

(Atma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *