Imlek Berubah Jadi Momentum “Wake Up Call”! Pdt. Simon Ruma Sentil Ketajaman Rohani di GGP One Gospel
Cimahi – Perayaan Tahun Baru Imlek di GGP One Gospel tahun ini tak hanya diwarnai sukacita dan kebersamaan, tetapi juga menjadi momentum “wake up call” rohani bagi jemaat. Di tengah atmosfer perayaan, pesan tajam tentang integritas dan ketaatan justru menjadi sorotan utama.
Ketua Majelis Daerah (Mada) Sultanbatara, Pdt. Simon Ruma, M.Th., tampil menyampaikan khotbah yang menggugah. Dengan gaya penyampaian yang penuh wibawa namun menyentuh, ia mengingatkan bahwa panggilan sebagai hamba Tuhan harus dijaga dengan kesungguhan, bukan dijalani secara rutinitas.
Mengacu pada 1 Petrus 1:17–19, Pdt. Simon menegaskan bahwa hidup manusia di dunia hanya sementara dan telah ditebus oleh Kristus dengan harga yang mahal. “Jika kita sadar akan nilai penebusan itu, hidup kita tidak boleh biasa-biasa saja,” ujarnya di hadapan jemaat.
Pesan tersebut mengalir kuat, terlebih ketika ia menyinggung fenomena sebagian pelayan Tuhan yang mulai kehilangan ketajaman rohani. Seruan agar tidak menjadi “tawar” dalam panggilan membuat suasana ibadah hening dan penuh perenungan.
Kepemimpinan yang Solid
GGP One Gospel digembalakan oleh Pdt. Dicky Suwarta, M.Th., yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP). Ibadah Imlek ini sekaligus memperlihatkan soliditas antara kepemimpinan pusat dan daerah dalam menjaga visi dan arah pelayanan tetap terfokus.
Turut hadir jajaran Majelis Pekerja, termasuk Pdt. Oktavianus Worung bersama istri selaku Infokom MP, serta Ketua Persiapan Hamba Tuhan Perintisan MP, Pdt. Jon Alfian Awumbas bersama istri.
Suasana semakin menguat dengan kesaksian Ps Ariane dari Brisbane, Australia, yang menegaskan pentingnya menjaga visi besar pelayanan agar tidak pernah padam.
Dari Perayaan ke Pembaruan
Bagi jemaat yang hadir, Imlek tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya perayaan awal tahun, tetapi juga ajakan untuk memulai kembali dengan komitmen yang lebih dalam.
Dari Cimahi, pesan itu menguat: perayaan boleh semarak, tetapi panggilan tetap sakral. Ketajaman rohani harus dijaga, dan api pelayanan harus terus menyala.
Jurnalis: Romo Kefas