Di Mata Fredrik, Ahmad Fikri Assegaf Bukan Sekadar Calon Ketua Umum PERADI , Tapi Arsitek Perubahan
Jakarta,24 Pebruari 2026 – Kontestasi menuju kursi Ketua Umum PERADI mulai menghangat. Nama-nama bermunculan, dukungan bergerak, strategi disusun. Namun di tengah dinamika itu, Fredrik J. Pinakunary menyampaikan pernyataan yang cukup menggugah:
“Kita tidak sedang mencari figur paling populer. Kita sedang mencari arsitek perubahan.”
Yang ia maksud adalah .
Bukan Tokoh Instan, Tapi Pembentuk Sistem
Publik hukum Indonesia mengenal Fikri sebagai pendiri , firma yang tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dan profesional di negeri ini. Ia juga menjadi motor lahirnya bersama almarhum —platform yang mengubah cara advokat mengakses regulasi.
Namun menurut Fredrik, yang jarang dibicarakan adalah fondasi berpikir di balik semua itu.
“Hukumonline lahir karena ada masalah nyata. Advokat kesulitan mendapatkan regulasi terbaru. Fikri tidak mengeluh, ia membangun solusi. Itu pola pikir sistemik,” ujarnya.
Di tengah organisasi advokat yang kerap terjebak pada dinamika personal, Fredrik menilai pola pikir seperti inilah yang dibutuhkan PERADI hari ini.
Kesederhanaan yang Menampar Realitas
Fredrik mengisahkan dua hari perjalanan bersama ke Medan pada 14–15 November 2025. Tidak ada rombongan mewah. Tidak ada jarak protokoler. Tidak ada gaya elitis.
“Beliau sederhana. Bahkan dalam percakapan, ia lebih banyak mendengar daripada berbicara tentang dirinya,” kata Fredrik.
Bagi Fredrik, kesederhanaan itu bukan kosmetik. Itu karakter.
Dan di sinilah letak pesan viralnya: ketika banyak orang sibuk membangun citra, Fikri justru membangun struktur.
PERADI Butuh Manajer, Bukan Sekadar Orator
Fredrik berbicara lugas.
“PERADI tidak kekurangan advokat hebat di ruang sidang. Tapi organisasi sebesar ini butuh pemimpin yang terbukti bisa menata sistem, mengelola organisasi besar, dan menjaga integritas.”
Ia menilai pengalaman Fikri membangun institusi dari nol hingga mapan menunjukkan kapasitas manajerial yang konkret—bukan retorika.
“Pemimpin itu bukan yang paling keras suaranya. Tapi yang paling jelas arah dan fondasinya,” tegasnya.
Bukan Soal Jabatan, Tapi Amanah
Di akhir pernyataannya, Fredrik menyampaikan kalimat yang menjadi sorotan:
“Saya tidak melihat ambisi jabatan pada diri Fikri. Saya melihat kesiapan memikul tanggung jawab.”
Dalam suasana kontestasi yang kerap emosional, pernyataan itu terasa menohok. Ia mengajak anggota PERADI untuk melihat lebih dalam—bukan pada siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling siap membangun.
Karena pada akhirnya, Munas bukan tentang siapa yang menang.
Ia tentang arah lima tahun ke depan.
Dan di mata Fredrik, Ahmad Fikri Assegaf bukan sekadar calon Ketua Umum PERADI —ia adalah figur yang memahami bagaimana perubahan dibangun, bukan sekadar dijanjikan.
jurnalis Romo Kefas
sumber Fredrik J Pinakunary